Pahala Besar bagi yang Sabar

Oleh: Samsul Zakaria, S.Sy., M.H.

(Hakim Pengadilan Agama Natuna)

 

 

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ...

اللهُ اَكْبَرُ (3×) اللهُ اَكْبَرُ (3×) اللهُ اَكبَرُ (3×) اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَّالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَّسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلًا. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ.

 اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ أَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَّهُدًى لِّلْعَالَمِيْنَ. وَرَفَعَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عَلَمًا بِالتَّكْبِيْرِ وَالتَّهْلِيْلِ وَالتَّحْمِيْدِ وَالتَّسْبِيْحِ شِعَارًا لِهٰذَا الدِّيْنِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ اَلْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Mengawali khutbah ini, marilah kita bersyukur atas ribuan kenikmatan yang masih Allah ta’ala anugerahkan kepada kita. Salah satu kenikmatan tersebut adalah kita dapat merasakan indahnya hari raya Idul Adha 1441 Hijriyah ini. Mudah-mudahan kenikmatan ini menjadi bekal kita untuk semakin meningkatkan ketaatan kita kepada Allah ta’ala.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, bi qauli allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad. Semoga kita dapat mengikuti sunnah-sunnahnya dan kelak mendapatkan syafa’atnya di yaumil qiyamah.

Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri khatib khususnya dan kepada jama’ah umumnya untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah ta’ala. Takwa dalam arti yang sebenar-benarnya yaitu dengan cara menjalankan perintah-perintah-Nya dan berupaya sekuat tenaga untuk meninggalkan larangan-larangannya.

Hadirin, jama’ah Shalat ‘Id yang berbahagia,

            Bila kita cermati, al-Quran banyak mengisahkan tentang perjalanan umat terdahulu. Dari kisah tersebut, kita diminta untuk mengambil pelajaran atau i’tibar. Bila kisah tersebut berwujud kebaikan maka kita harus berupaya untuk meneladani dan mengamalkannya. Sebaliknya, bila kisahnya tentang kejahatan maka kita diminta untuk menjauhkan diri kita sekuat mungkin dari kejahatan tersebut.

            Pada momen Idul Adha ini, mari kita renungi kembali dan mengambil pelajaran dari perjalanan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bersama isterinya Siti Hajar dan putranya Isma’il ‘alaihissalam. Ibrahim ‘alaihissalam yang menanti-menanti kelahiran bayi dari rahim isterinya, tentu sangat bahagia dengan lahirnya Isma’il ‘alaihissalam.

            Namun apa yang terjadi? Ibrahim ‘alaihissalam justru diperintahkan oleh Allah untuk menjadikan Isma’il ‘alaihissalam sebagai sesembelihan. Karena ketaatannya kepada Allah ta’ala ditambah dengan kesadaran bahwa Isma’il ‘alaihissalam yang dicintainya adalah sebatas titipan. Apalagi Isma’il ‘alaihissalam yang dimintai pendapat juga dengan penuh kesabaran mengikhlaskan dirinya untuk menjadi sesembelihan. Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimassalam menenuhi titah Rabb mereka.

Hadirin, jama’ah Shalat ‘Id yang berbahagia,

            Atas keikhlasan dan ketulusan Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimassalam, akhirnya Allah ta’ala menggantikan atau menebus Isma’il dengan hewan sesembelihan yang besar atau dzibhun ‘adzim. Bahwa yang hakikatnya harus dibunuh bukanlah Isma’ilnya namun rasa kepemilikan terhadap Isma’il itu sendiri. Semua kita hakikatnya adalah “Ibrahim” dalam pengertian yang berbeda. Masing-masing kita punya “Isma’il”.

Dengan meneladani kisah Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimassalam, kita diminta untuk membunuh rasa kepemilikan kita yang berlebih terhadap dunia dan isinya. Sebab, semakin besar rasa memiliki maka semakin besar kekhawatiran akan kehilangan. Sementara semua yang bersama kita saat ini adalah titipan dan sementara belaka. Cepat atau lambat akan ditarik oleh Yang Maha Memiliki.

Hadirin, jama’ah Shalat ‘Id yang berbahagia,

Kisah selanjutnya adalah tentang Siti Hajar tatkala ditinggalkan oleh Ibrahim ‘alaihissalam di gurun sahara dengan perbekalan seadanya. Sementara bersama Siti Hajar ada Isma’il ‘alaihissalam yang masih balita. Untuk mengobati dahaga Isma’il, Siti Hajar berlari-lari antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali. Di balik kesabaran dan ketabahan itu, Allah ta’ala memberikan ganjaran. Ditemukanlah sumber air zamzam yang masih mengalir deras memberikan manfaat bagi sesiapa saja.

Sekelumit kisah tersebut memberikan gambaran bahwa hidup manusia tidak akan pernah lepas dari ujian. Khatam dari satu ujian akan berhadapan dengan ujian berikutnya. Namun bila ujian itu dihadapi dengan kesabaran yang maksimal akan membuahkan pahala kebajikan yang luar biasa. Sabar bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar. Sabar yang sejati berarti yakin bahwa ujian datangnya dari Allah dan berupaya untuk menghadapi ujian tersebut dengan sekuat tenaga.

            Sebagai umat muslim kita semestinya bersyukur, karena segenap perjalanan hidup yang kita lalui adalah sebuah kebaikan. Dengan catatan kita dapat menyikapinya dengan benar. Rasulullah SAW bersabda:

عَجَباً لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لأِحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ: إِنْ أَصَآبَتْهُ سَرَّآءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ، وَإِنْ أَصَآبَتْهُ ضَرَّآءُ صَبَرَ فَكَانَ خيْراً لَهُ      رواه مسلم

Artinya: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

 

Hadirin, jama’ah Shalat ‘Id yang berbahagia,    

Salah satu ujian yang dihadapi oleh umat muslim di masa pandemi Covid-19 ini adalah ditangguhnya pelaksanaan ibadah haji. Pemerintah Arab Saudi memutuskan haji dilaksanakan secara terbatas yaitu bagi warga Saudi dan muslimin ekspatriat atau warga asing yang tinggal di Saudi. Kondisi tersebut tentu berat bagi mereka yang sudah dijadwalkan berangkat haji tahun ini. Namun yang pasti niat baik sudah dicatat dan sebelum amal baik itu terlaksana sudah diganjar pahala oleh Allah ta’ala.

            Semoga kesabaran kita untuk menghadapi kondisi dunia yang tidak menentu ini menjadi sebab dicukupkannya pahala kebaikan oleh Alla ta’ala. Allah ta’ala berfirman dalam Surat az-Zumar [39] ayat 10:

 

 

Artinya: “Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu." Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”


اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ ربِّهِ ونَهَيَ النَّفْسَ عَنِ اْلَهوَى فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ اْلمَأْوَى. وَاَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِى وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ...


Khutbah Kedua

 

اَللهُ اَكْبَرُ (4×) اَللهُ اَكْبَرُ (3×) اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ هُوَ اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ. اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لَّا اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثيْرًا. اَمَّا بَعْدُ فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا اَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إَلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَآءَ واْلبَلَآءَ وَاْلوَبَآءَ وَالفَحْشَآءَ وَالشَّدَآئِدَ وَالفِتَنَ وَالمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَآئِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

أَعَادَهُ اللهُ عَلَيْنَا وَعَلَيْكُمْ وَعَلَى الْمُسْلِمِيْنَ بِالْيُمْنِ وَالْـِإيْمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صَالِحَ الْأَعْمَالِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ...